Wednesday, June 29, 2011

SIRKUS DI ASIA MULAI PUNAH

DI daratan China kebudayaan sirkus akrobatik berbasis kungfu memang berkembang pesat, pemerintah mendirikan puluhan Za Ji Xue Xiao. Demikian pula sektor swasta juga membuka sekolah serupa. Sayang, di pelbagai negeri lain di Asia, keberadaan sirkus justru mulai memudar. Satu per satu kelompok sirkus yang ada telah gulung tikar.


Sejumlah kelompok sirkus di Hongkong, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Singapura telah lama tutup. Demikian pula di Jepang, hanya tersisa dua kelompok sirkus. Sementara di Indonesia hanya tersisa dua kelompok, yakni Oriental Circus Indonesia dan Holiday Circus.


Sebagian besar kelompok sirkus di Asia memang dirintis oleh keluarga Tionghoa Perantuan (Hua Qiao- Red). Beberapa di antaranya dirintis oleh sejumlah keluarga yang menyebar ke luar China pascaperang saudara yang berakhir tahun 1949. Namun, setelah beberapa dekade, tidak terjadi regenerasi, sementara di China Daratan tradisi sirkus akrobatik tetap berlangsung. Keturunan keluarga sirkus banyak yang memilih ganti profesi meninggalkan warisan moyang mereka. Alhasil, sirkus pun menjadi barang langka di Asia.


Frans Manansang, praktisi sirkus di Indonesia menjelaskan, tidak adanya regenerasi dan besarnya biaya memelihara sebuah kelompok sirkus membuat bisnis hiburan ini sulit bertahan. Apalagi kini muncul pelbagai sarana hiburan seperti film, video, dan beragam piranti elektronik lain berteknologi canggih.


Sebagai contoh, Oriental Circus dengan awak panggung dan teknisi mencapai seratus orang lebih membutuhkan biaya yang besar. Demikian pula pemeliharaan hewan dan peralatan yang juga menelan biaya tidak sedikit.
"Untuk tenda, Oriental Circus mendatangkan khusus dari Italia yang dapat menampung seribu lima ratus penonton. Biayanya miliaran rupiah, belum lagi perlengkapan teknis lain," Frans menjelaskan.


Pada masa jayanya, Oriental Circus telah tampil di pelosok Nusantara. Dili di Timor Leste pun pernah mereka kunjungi. Demikian pula Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi serta wilayah Indonesia Timur telah dilawat kelompok ini.


Namun, kini karena terbentur biaya operasional, untuk melakukan kunjungan ke pelbagai daerah mulai dikurangi. Oriental Circus Indonesia tahun ini menggelar pertunjukan hanya di Pulau Jawa terutama di kawasan Jabotabek.


***
MELESTARIKAN sirkus memang butuh kiat khusus dan kegigihan. Keluarga besar Manansang, misalnya, terus melakukan pembaruan dan mencoba trik-trik baru bagi Oriental Circus Indonesia yang tampil sejak tahun 1967.
"Tahun 70-an kami mulai mengembangkan sulap dalam pertunjukan. Mengombinasikan sirkus dengan budaya lokal juga dicoba dan berhasil. Pada kompetisi tingkat dunia di Wu Han, China, kami meraih juara kategori budaya dengan menampilkan atraksi akrobatik dipadukan Tari Legong Bali. Sambutan meriah diperoleh Oriental Circus waktu itu," kenang Frans Manansang.
Mencontoh trik-trik baru dari kelompok sirkus kelas dunia seperti Ring-Ring Brothers yang mengakuisisi grup Barnum and Bailey asal Amerika Serikat juga dilakukan Frans. Demikian pula penampilan Sirkus China turut menjadi salah satu kiblat Oriental Circus Indonesia.


Bahkan, untuk memberikan variasi, pihaknya pernah menghadirkan kelompok sirkus dari Inggris, Rusia, dan sejumlah negara Eropa lain. Dalam perkembangan terakhir, Oriental Circus Indonesia memboyong kelompok-kelompok sirkus dari China. Yang paling akhir, mereka boyong untuk bermain selama satu tahun adalah Zi Gong Shi Za Ji Tuan asal Provinsi Si Chuan.


Frans menambahkan, bisnis sirkus bukan semata mencari uang belaka. Atraksi hewan dapat menjadi sarana pembelajaran konservasi bagi anak-anak. Kedisiplinan untuk mampu melakukan hal-hal yang mustahil dianggap juga dapat menjadi pelajaran berharga.


Apalagi jika sirkus Indonesia mampu menampilkan dan mengemas unsur-unsur budaya lokal, bukan tidak mungkin kita dapat bersaing di pentas sirkus dunia. Setidaknya pengalaman berharga di Wu Han tahun 1996 dapat menjadi pelajaran berharga. Jika tidak, mungkin sekarang saat yang paling baik untuk menikmati sirkus yang tersisa di Indonesia. (ONG)


KOMPAS - Jumat, 10 Sep 2004 Halaman: 35

No comments:

Post a Comment